Posted by : Unknown
Selasa, 08 April 2014
Ketemu Tiga Besar
Sore itu, Juna yang lagi asyik ngobrol sama Ana, adik kecilnya, tiba-tiba dikagetkan oleh suara telepon(sama suara telepon aja kaget). Ternyata, itu telepon dari Ayah.
"HALOO!!", teriak Ayah di telepon.
"Halo juga Ayah, pake teriak-teriak segala. Ada apa, Yah?"
"Ah, Juna. Maaf, hehe, tadi Ayah telepon gak diangkat-angkat sih. Mama dimana?"
"Di kamar, sebentar, Juna panggil deh", kata Juna sambil menutup telepon dengan tangannya. "MAMAAAAAAA!! AYAH MAU NGOBROL NIH!", teriak Juna.
Mama pun terkejut dan langsung bangkit dari tempat tidurnya, lalu menghampiri Juna dengan keadaan lesu.
"Iya, ada apa, sih?", ketus Mama.
"Ini nih, Ayah telepon, mau ngobrol sama Mama".
"Oh, sini teleponnya". Juna segera menyerahkan gagang telepon kepada Mama.
Juna dan Ana kembali mengobrol. Dan tak lama setelahnya, Mama selesai bercakap-cakap dengan Ayah.
"Ada apa, Ma?", tanya Juna.
"Ah, itu. Saudara kita dari Semarang itu, lho, Iwan. Disuruh Ayah tinggal disini, sama kita."
"Oh, Iwan ...................", ucap Juna dengan nada datar. Lalu, dia mengingat-ingat lagi siapa itu Iwan. Dan........
"....Hah?! Iwan yang item itu, rambutnya keriting, bibirnya tebel, matanya belo, anaknya polos bin pinter itu mau kemari?!".
"Iya, kenapa? Kamu gak suka dia kesini, Jun?"
"Suka sih, Ma. Tapi, nanti kalo dia kurang gaul dan minder gimana?", keluh Juna.
"Tapi dia kan baik, Kak", sambung Ana.
"Nah, kalian berdua harus bimbing dia biar gak salah gaul dan kurang gaul, buat dia nyaman di kota ini. Kalian kan paling bisa bikin orang jadi beken".
"Iya sih, Ma. Tapi... okelah!".
"Nah, gitu dong anak Mama. Toss dulu dong, hehe".
* * * * *
Keesokan harinya, pukul 4 pagi, di rumah Juna, terdengar suara ketukan pintu, yang tidak lain dan tidak bukan ialah Iwan. Iwan berangkat kemarin pagi dan tiba pagi sekali. Namun, tidak ada yg menghiraukannya.
"Asalamu'alaikuuuum!", teriak Iwan. Tapi tidak ada seorang pun yang menjawab salamnya. Iwan pun memutuskan tidur di depan rumah Juna tersebut.
Ketemu Tiga Besar
Sore itu, Juna yang lagi asyik ngobrol sama Ana, adik kecilnya, tiba-tiba dikagetkan oleh suara telepon(sama suara telepon aja kaget). Ternyata, itu telepon dari Ayah.
"HALOO!!", teriak Ayah di telepon.
"Halo juga Ayah, pake teriak-teriak segala. Ada apa, Yah?"
"Ah, Juna. Maaf, hehe, tadi Ayah telepon gak diangkat-angkat sih. Mama dimana?"
"Di kamar, sebentar, Juna panggil deh", kata Juna sambil menutup telepon dengan tangannya. "MAMAAAAAAA!! AYAH MAU NGOBROL NIH!", teriak Juna.
Mama pun terkejut dan langsung bangkit dari tempat tidurnya, lalu menghampiri Juna dengan keadaan lesu.
"Iya, ada apa, sih?", ketus Mama.
"Ini nih, Ayah telepon, mau ngobrol sama Mama".
"Oh, sini teleponnya". Juna segera menyerahkan gagang telepon kepada Mama.
Juna dan Ana kembali mengobrol. Dan tak lama setelahnya, Mama selesai bercakap-cakap dengan Ayah.
"Ada apa, Ma?", tanya Juna.
"Ah, itu. Saudara kita dari Semarang itu, lho, Iwan. Disuruh Ayah tinggal disini, sama kita."
"Oh, Iwan ...................", ucap Juna dengan nada datar. Lalu, dia mengingat-ingat lagi siapa itu Iwan. Dan........
"....Hah?! Iwan yang item itu, rambutnya keriting, bibirnya tebel, matanya belo, anaknya polos bin pinter itu mau kemari?!".
"Iya, kenapa? Kamu gak suka dia kesini, Jun?"
"Suka sih, Ma. Tapi, nanti kalo dia kurang gaul dan minder gimana?", keluh Juna.
"Tapi dia kan baik, Kak", sambung Ana.
"Nah, kalian berdua harus bimbing dia biar gak salah gaul dan kurang gaul, buat dia nyaman di kota ini. Kalian kan paling bisa bikin orang jadi beken".
"Iya sih, Ma. Tapi... okelah!".
"Nah, gitu dong anak Mama. Toss dulu dong, hehe".
* * * * *
Keesokan harinya, pukul 4 pagi, di rumah Juna, terdengar suara ketukan pintu, yang tidak lain dan tidak bukan ialah Iwan. Iwan berangkat kemarin pagi dan tiba pagi sekali. Namun, tidak ada yg menghiraukannya.
"Asalamu'alaikuuuum!", teriak Iwan. Tapi tidak ada seorang pun yang menjawab salamnya. Iwan pun memutuskan tidur di depan rumah Juna tersebut.
